Sabtu, 09 Februari 2013

PENGERTIAN RETORIKA DAN PERKEMBANGANNYA

PENGERTIAN RETORIKA DAN PERKEMBANGANNYA
By Kahar, S.Pd.I
A.            Ragam Pengertian Retorika
Munculnya pengertian retorika sejalan dengan sejarah perkembangan retorika. Hal ini disebabkan setiap pereode retorika melahirkan konsep retorika yang berbeda. Hal lain yang memengaruhinya adalah pandangan para tokohnya. Adapun pengertian retorka terpapar di bawah ini.
1.    Pada masyarakat Yunani, retorika dikaitkan dengan pemerintah kerajaan yang tiran, retorika diartikan kecakapan berpidato di depan publik untuk para wakil rakyat.
2.        Pada era perkembangan kaum filosofis (kaum sofis),masa ini berkembang banyaknya perdebatan untuk memenangkan suatu kasus tanpa melihat benar atau salah. retorika berarti kecakapan berpidato untuk memenangkan suatu kasus tanpa memandang manfaat dan kebenaran.
3.     Menurut Plato, Retorika yang tidak memandang kemanfaatan dan kebenaran itu bukanlah retorika. Menurutnya, retorika itu seni bertutur untuk memaparkan kebenaran.
4.      Menurut Aristoteles (Peletak dasar retorika ilmiah, dan disebut bapak retorika), retorika adalah ilmu dan seni yang mengajarkan pada orang untuk terampil menyusun dan menampilkan tuturan secara efektif untuk mempersuasi pihak lain. Tuturan yang efektif menurutnya adalah memaparkan kebenaran, disiapkan dan ditata secara sistematis dan ilmiah, mengolah dan menguasai topik tutur, serta memunyai alas an pendukung atau argumen.
5.        Retorika baru masih mengikuti pandangan Aristoteles hanya saja tidak sepakat dengan tujuan retorika yang disampaikan oleh Aristoteles. Menurut retorika baru, tujuan retorika adalah membina kerja sama, saling pengertian, dan kedamaian dalam masyarakat lewat tutur.
Selain pengertian-pengertian berdasarkan  sejarah perkembangan retorika, pengertian retorika menurut para tokoh terpapar sebagai berikut.
1.    Retorika adalah sebuah teknik pembujuk-rayuan secara persuasi untuk menghasilkan bujukan dengan melalui karakter pembicara, emosional atau argumen (Wikipidia)
2.     D. Beckett, Menurt Beckett Retorik itu adalah seni yang mengafeksi pihak lain dengan tutur, yaitu dengan cara memanipulasi unsur-unsur tutur itu dan respon pendengar. Tindakan manipulasi ini dilakukan dengan perhitungan yang matang sebelumnya
3.    Donald C. Bryant. Prof. Bryant memandang Retorik itu sebagai suatu tutur yang mempersuasi dan memberikan informasi yang rasional kepada pihak lain.
4.     Bishop Whatley. Whatley memandang Retorika itu sebagai masalah bahasa. Karena itu bahasa kita pahami kalau dia membatasi Retorik itu “ Retorik adala seni yang mengajarkan orang kaidah dasar pemakaian bahasa yang efektif.
5.    Martin Steinmann, Jr Steinmann, Jr melihat Retorik itu sebagai bahasa. Menurut Retorikus ini, Retorik berbicara tenteng pemilihan yang efektif terhadap bentuk cara-cara mengungkapkan yang sinonim. Akhirnya perlu diketehui suatu rumusan yang agaknya abstrak sifatnya yaitu rumusan yang menganggap Retorik ini sebagai suatu ide untuk mempersuasi.
6.    Gorys Keraf menyatakan bahwa retorika  sangat terkait dengan teknik pemakaian bahasa sebagai seni yang didasarkan pada pengetahuan yang tersusun baik. Jadi, ada dua aspek yang perlu diketahui sesorang dalam retorika yaitu  pertama, pengetahuan mengenau bahasa dan penggunaan bahasa dengan baik, dan kedua, pengetahuan tentang objek tertentu yang akan disampaikan dengan bahasa itu. Oleh karena itu retorika harus dipelajari dalam rangka ingin menggunakan bahasa yang sebaik-baiknya dengan tujuan tertentu. (keraf, 1994: 1)
7.    Nurgiyantoro (1993:295) menyatakan bahwa retorika adalah cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetik. Hal itu dapat diperolah dengan kreativitas pengungkapan bahasa yaitu bagaimana pengarang menyiasati bahasa  sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasannya.
B.            Penyimpangan dan Keliru Gagas Tentang Retorika
Oka (1990:33-38) menjelaskan bahwa selain pengertian-pengertian retorika berdasarkan sajarah perkembangannya, ada konsep retorika yang menyimpang dari hakikat retorika yang sebenarnya. Penyimpangan-penyimpangan itu antara lain dijelaskan di bawah ini.
1.    Penyamaan Retorika Dengan Studi Sastra
Penyamaan retorika dengan studi sastra ini terjadi pada zaman Renaisance. Pada zaman ini adanya anggapan bahwa sastralah yang menggunakan bahasa yang baik dan indah. Kemudian mengganggap bahwa ilmu yang dapat membantu mempelajarinya adalah ilmu retorika.
2.    Penyamaan Retorika dengan Gaya Bahasa dan Pendiksian
Penyimpangan ini terjadi karena adanya anggapan bahwa retorika itu penggunaan bahasa untuk menyampaikan tuturan serta petunjuk pemilihan materi bahasa untuk bertutur. Padahal hal yang berkaitan dengan pemilihan bahasa, gaya bahasa, dan pendiksian hanyalah bagian terkecil dari retorika. Atau dengan kata lain, itu merupakan aspek teknis saja dalam retorika.
3.    Penyamaan Retorika dengan pedoman Karang-mengarang
Penyimpangan ini terjadi karena adanya anggapan bahwa menulis atau mengarang itu memerlukan pedoman. Pedoman karang-mengarang itu yang disebut retorika. Padahal retorika lebih luas dari itu. Lebih tepat dikatakan bahwa pedoman mengarang merupakan aplikasi retorika untuk tutur tulis.
4.    Penyamaan Retorika dengan Kecakapan Bersilat Lidah
Bermula dari anggapan bahwa retorika adalah ilmu yang mengajarkan kecakapan mempermainkan bahasa untuk mempengaruhi petutur, maka retorika disamakan sebagai ilmu untuk bersilat lidah.
C.           Pengertian dasar Retorika
Dengan memperhatikan pengertian retorika berdasarkan sejarah dan adanya keliru gagas tentang retorika di atas, konsep dasar retorika dapat dirumuskan sesuai dengan hakikatnya.  Perumusan pengertian retorika harus memperhatikan hal-hal berikut:
1.    Retorika adalah salah satu cabang ilmu,
Retorika dipandang sebagai ilmu karena telah memiliki syarat-syarat keilmuan (selanjutnya akan dibahas tersendiri)
2.    Retorika memiliki tujuan yang luhur
Tujuan luhur retorika adalah membina saling pengertian, kerja sama, dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat. Tujuan luhur tersebut akan tercapai apabila diawali dengan beberapa kegiatan pendahuluan yaitu (1) meyakinkan mitra tutur dengan ragam bahasa terteentu, (2) menggunakan seperangkat ulasan, dan (3) menggunakan gaya penampilan tutur. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut, retorika memberikan pedoman yang harus diperhatikan, yaitu:
a.       Moral penutur dan mitra tutur,
b.      Analisis yang objektif dan sistematis terhadap topik tutur,
c.       Pewadahan hasil analisis dengan bahasa yang baik
d.      Penyesuaian dengan kondisi dan situasi tutur,
e.       Penataan secara sistematis dan logis
f.       Penampilan keseluruhan materi tutur dengan tewknik dan gaya yang memadai.
3.  Retorika berfungsi memberi bimbingan dalam mempersiapkan, menata, dan menampilkan tutur
Sebenarnya kegiatan bertutur adalah kegiatan yang rumit yang memrlukan usaha yang sungguh-sungguh agar mitra tutur dapat menerima gagasan yang disampaikan oleh penutur. Proses yang ditempuh untuk sampai pada tuturan yang baik adalah (1) persiapan, (2) penataan, dan (3) penampilan.
            Berdasarkan rangkaian uraian di atas, terumus pengertian dasar  retorika,
retorika adalah ilmu yang mengajarkan cara bertutur yang efektif untuk terwujudnya saling pengertian, kerja sama, dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk mencapai keefektifan itu, retorika mengajarkan proses bertutur mulai persiapan tutur, penataan tutur, dan penampilan tutur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar