Minggu, 15 September 2013

Menggunakan Analisis strategiik; Analisis SWOT di Lembaga Pendidikan Islam


Menggunakan Analisis strategiik; Analisis SWOT di Lembaga Pendidikan Islam
KAHAR
Mahasiswa Pascasarjan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta
No. Hp, 085 237 239 554
Abstrak
Pencapain tujuan organisasi diperlukan alat yang berperan sebagai ekselerator dan dinamisator sehingga tujuan dapat tercapai secara efektif dan efesien. Demikan halnya dalam lembaga pendidikan Islam yang merupakan sekumpulan manusia yang mempunyai tujuan untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strenghts) dan peluang (opportunities), akan tetapi secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Setelah dilakukan analis SWOT tersebut, hasil analiss kemudian digunakan sebagai acuan untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam upaya memaksimalkan kekuatan dan memanfatkan peluang, serta secara bersamaan berusaha untuk   meminilkan klemahan  dan mengatasi ancaman. Analisi ini juga digunakan dalam rangka menyusung rencana dan program lembaga pendidikan Islam

Kata Kunci :Analisi Strategik, analisis SWOT lembaga Pendidiksn Islam

A.      Pendahuluan
Sebagai pelaksana program pendidikan, lembaga pendidikan adalah pemeran utama untuk melaksanakan program tersebut. Dalam pelaksanaan program-program serta tujuan yang telah disepakati oleh lembaga pendidikan tersebut tentunya tidak bisa terlepas dengan problematika maupun persoalan-persoalan lain yang harus diselesaikan oleh sebuah lembaga pendidikan termasuk lembaga pendidikan Islam.
Setiap pimpinan lembaga atau perusahaan tidak menginginkan perusahaannya jatuh bangrut begitupun dengan lembaga pendidikan tidak ada yang menginginkan jatuh terprosok hanya karena persoalan salah manajemen atau pengelolaan. Masalah pendidikan bukan merupakan masalah baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Berdasarkan masalah pendidikan, tidak lepas problematika yang dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam. Perhatian tersebut tidak lepas dari akar sejarah lembaga pendidikan islam yang memunculkan madrasah dan sekolah. Selaras dengan tuntutan zaman, lembaga pendidikan Islam pun berkembang. Persoalan-persoalan yang timbul baik berupaa faktor intern maupun ekstern.Faktor intern misalnya terkait dengan kurikulum, tenaga pendidik, perserta didik dan lain-lain, sedangkan faktor eksternnya adalah faktor-faktor sosial (masyarakat), pemerintahan maupun pihak-pihak yang terkait. Sebuah lembaga pendidikan Islam tentunya harus mengetahui problematika lembaganya, mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang maupun ancaman sehingga bisa melahirkan solusi-solusi cemerlang dan bisa mengantarkan lembaga pendidikan Islam pada kedudukan yang sangat berpengaruh dalam pergulatan keilmuan bangsa maupun dunia.
Sehubungan dengan hal tersebut E. Mulyasa menyatakan bahwa perkembangan yang terjadi dewasa ini cenderun menimbulkan permasalahan dan tantangan baru berdampak luas terhadap tugas-tugas pengelolaan  pendidikan.[1] Perbaikan mutu secara terus menerus berorientasi pada masukan, proses, luaran, dll. Inti sumber perbaikan bukanlah pada fisiknya, melainkan pada peningkatan profesionalitas manusia pengelola atau pelaksana lembaga pendidikan Islam. Untuk mengukur tingkat keberhasilan, kekuatan dan kelemahan dalam manajemen strategik maka analisis SWOT merupakan salah satu alternativ yang digunakan dalam mengnalisis manajemen pendidikan, khusunya lembaga pendidikan Islam.
B.       Analisis Strategik sebagai Proses
1.      Analisis strategik
Analisis secara bahasa dapat diartikan penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yg tepat dan pemahaman arti keseluruhan.[2] Secara istilah analisis dapat diartikan sebagai suatu tindakan dalam mengevaluasi tujuan–tujuan yang diinginkan dalam mencapai suatu tujuan bersama yang diharapakan. Sedangkan strategi diartikan rencana yg cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.[3]
Pencapain tujuan organisasi diperlukan alat yang berperan sebagi ekselerator dan dinamisator sehingga tujuan dapat tercapai secara efektif dan efesien. Demikan halnya dalam lembaga pendidikan Islam yang merupakan sekumpulan manusia yang mempunyai tujuan untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, sejalan dengan hal tersebut diyakini sebagai salah satu alat untuk mencapai tesebut adalah menggunakan konsep manajemen  strtaegik, sehingga apa yang menjadi tujuan Pendidikan Nasional tercapai dengan baik sesusia dengan harapan, maka perlu poengelolaan yang cukup profesional dan komitmen yang tinggi
a.      Pengertian manajemen strategik
Dalam perkembangan konsep mengenai strategik mengalami perkembangan yang cukup signifikan.  Manajemen strategik merupakan rangkaian dua perkataan yang terdiri dari dua perkataan yang terdiri dari manajemen dan strategik yang masing-masing memiliki pengertian tersendiri yang sudah dirangkaikan menjadi satu terminologi berubah memiliki dengan memiliki pengertian tersendiri pula.
Dalam membahas perkataan ‘strtegik” sulit untuk dibantah bahwa penggunaannya di awali dari dan populer dikalangan militer. Di lingkungat tersebut penggunaannya lebih dominan dalam situasi peperangan, sebagai tugas seorang komandan dalam menghadapi musuh, yang mengatur cara atau taktik untuk memenagnkan peperangan. Dengan demikian yang dimaksud dengan strategi dalam peperangan adalah pengaturan cara untuk memanangkan peperangan. Di sampin itu secara secara lebih bebas perkataan “strategik” sebagai teknik dan taktik dapat juga diartikan sebagai “kiat”  seorang komandan untuk memenagkan peperang yang menjadi tujuan utamanya.[4]
Strategik adalah kerangka yang membimbing dan mengendalikan pilihan pilihan yang menetapkan sifat dan arah suatu organisasi perusahaan. Sedangkan menurut Drucker dalam bukunya Barlian yang di kutip oleh Akdon[5] strategi adalah mengerjakan sesuatu yang benar (doing the rings things). Sejalan dengan pendapat Clausweitz dalam Bukunya Wahyudi yang di kutib Akdon[6] bahwa ”strategik merupakan suatu seni menggunakan pertempuran untuk memenagkan perang”. Skinner “stategik merupakan filosofi yang berkaitan dengan alat untuk mencapai tujuan.
b.      Tahapan-Tahapan Manajemen Strategik
Manajemen strategik merupakan paradigma baru dalam organisasi non profit di mana landasan filosfis ini berasala dari nilai-nilai pengabdian dan kemanusiaan untuk berkepentingan hidup bersama dalam lingkungan masyarakat. Manajemen strategik adalah suatu cara untuk mengendalikan organisasi secara efektif dan efesien sampai kepada implementasi garis terdepan dengan sedemikian rupa hingga tujuan dan sasarannya tercapai. Sasaran manajemen strategik adalah menigkatkan kualitas organisasi, efesiensi penganggaran, penggunaan sumber daya kualitas evaluasi perogran dan pemantauan kinerja, serta kualitas pelaporan.
Menurut Fred R. David terdapat tiga tahapan penting dalam proses manajemen strategik yaitu; formulasi strategi, implementasi  strategi dan evaluasi strategi[7]  strtegi cukup mudah bagi kita untuk menentukan kemana kita mencari . bagian tersulit mendapatkan organisasi pada tindakan proriotas yang baru.[8]
1)        Formulasi strategi
Strategi adalah pola tindakan utama yang dipilih untuk mewujudkan visi organisasi melalui misi. Menurut David dalam bukunya, formulasi strategi termaasuk mengembangkan visi dan misi, mengindentivikasi peluang dan ancaman eksternal, menetukan kekuatan dan kelemahan internal, menetapkan tujuan jangka panjang, merumuskan alternatif strategi dan memilih strategi yang akan di laksanakan.[9]
Formulasi strategi ini sangat penting untuk dilaksanakan karena adanya keterbatasan yang dihadapi suatu organisasi seperti keterbatsan sumber dana dan kemampuan jika dibandingkan dengan tujuan-tujuan yang diinginkan. Oleh karena itu perlu disusun strategi yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi dengan kemampuan organisasi.
2)        Implementasi strategi
Implementasi strategi adalah proses dimana manajemen mewujudkan strategi dan kebijakan dalam tindakan melalui pengembangan program, anggaran dan prosedur yang memungkinkan adanya perubahan budaya secara menyeluruh baik struktur maupun sistem manajemen dalam organisasi.
Implementasi strategi diperlukan suatu organisasi untuk mengembangkan budaya yang mendukung strategi yang dilakukan, menciptakan struktur organisasi yang efektif, mengarahkan kembali marketing, menyiapkan budget/biaya, mengembangkan sistem informasi dan koprasi pegawai. Untuk melakukan strategi, lembaga/organisasi harus menetapkan tujuan tahunan, mengubah kebijakan-kebijakan, memotivasi pegawai dan mengalokasikan sumnber-sumber daya secara tepat sehingga yang sudah dibuat dapat dilaksanakan.
Adapun tujuan utama implementasi strategi adalah rasionalitas tujuan dan sumber daya. Pada dasarnya implementasi strategi adalah tindakan yangmengimplementasikan strategi yang telah disusun kedalam berbagai alokasi sumber daya secara optimal. Dengan kata lain, dalam implemntasi strategi harus menggunakan informasi formulasi strategi untuk membantu dalam penmbentukan tujuan-tujuan kinerja, alokasi dan prioritas sumber daya.[10]
3)        Evaluasi strategi
Evaluasi diartikan sebagai umpan balik atas kerja yang lalu dan mendorong adanya produktifitas dimasa mendatang. Evaluasi merupakan kegiatan menunjukkan penilaian atas keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan sesuai dengan saran dan tujuan yang ditetapkan dalam formulasi strategi.
Adapun menurut Akdon, fokus utama evaluasi strtegi adalah pengukuran kinerja dan penciptaan mekanisme umpan balik yang efektif. Pengakuan kinerja merupakan tahap yang penting untuk melihat dan mengafaluasi capaian atau hasil pekerjaan yang menjadi sasaran pekerjaan tersebut[11]
c.       Manfaat manajemen strategik
Manajemen strategik mempunya manfaat bagi seluruh organisasi/ lembaga yang menerapkannya. Sebagimana yang dimaksudkan oleh wahyudi dalam bukunya Manajemen strategik organisasi non-profit, bahwasnya manfaat yang diperoleh organisasi dalam menerapkan manjemen strategik diantaranya.
1)   Memberikan arah jangka panjang yang akan dituju oleh organisasi.
2)   Membantu organisasi beradaptasi pada perubahan-perubahan yang terjadi.
3)   Menbantu organisasi menjadi lebih efektif.
4)   Mengidentifikasikan keunggulan komparatif dalam lingkungan yang semakin beresiko, serta
5)   Mengurangi efektifitas yang tumpang tindih.[12]
Dengan demikian manfaat yang diperoleh oleh organisasi dari penerapan manajemen strategik adalah menjadikan oraganisasi lebih dinamis, fungsi kontrol berjalan efektif dan efesien meniadakan pertentangan dan mewujudkan keunggulan, memudahkan danb menyepakati perubahan pengenmabangan strategi yang dilaksanakan mendorong prilaku positif bagi semua pihak untuk ikut serta mengembangkan organisasi.
2.      Anilisis SWOT
SWOT adalah singkatan dari strength, weakneses, Opportunities and Threat[13]s (kekuatan, kelemahan, peluang dan Ancaman). Analisis SWOT sudah menjadi alat yang umum digunakan dalam perencanaan strategis pendidikan, namun ia tetap merupakan alat  yang efektif dalam menempatkan potensi institusi. SWOT dapat dibagikedalam dua elemen – analisa internal yang berkonsentrasi pada prestasi institusi itu sendiri, dan analisa lingkungan
Uji kekuatan dan kelemahan pada dasarnya merupakan audit internal tentang seberapa efektif performa institusi pada konteks eksternal atau lingkungan setempat sebuah institusi beroprasi. Analisis SWOT bertujuan untuk menemukan aspek-aspek penting dari hal-hal tersebut, kekutan,  kelemahan, peluang dan ancaman. Tujuan pengujian ini adalah untuk memaksimalkan kekuatan, meminalkan kelemahan, mereduksi ancaman dan membangun peluang.
Strengths-kekuatan[14] merupakan kondisi internal positif yang memberikan keuntungan. Kekuatan dalam lembaga sekolah/madrasah dapat berupa kemampuan-kemampuan khusus/spesifik, SDM yang menandai, image organisasi, kepemimpinan yang cakap dan lain-lain.
Weaknes-kelemahan[15] merupakan kondisi internal negativ yang dapat merendahkan penilaian terhadap sekolah/madrasa kelemahan dapat berupa rendahnya SDM yang dimiliki, produk yang tidak berkualitas, image yang tidak kuat, kepemimpinan yang buruk dan lain-lain.
Opportunity-peluang[16] adalah kondisi sekarang atau masa depan yang menguntungkan sekolah/madrasah. Opportunity merupakan kondisi eksternal yang dapat memberikan peluang-peluang untuk kemajuan lembaga seperti adanya perubahan hukum, menurunnya pesaing menigkatnya jumlah siswa baru.
Threats-tantangan[17] adalah kondisi eksternal sekolah/madrasah, sekarang dan yang akan datang yang tidak menguntugkan. Tantangan ini dapa berupa munculnya pesaing-pesaing baru, penurunan jumlah siswa dan lain-lain.
Kerangka Kerja Analisis SWOT
ENVIROMENTAL SCAND
Internal Analisis
External Analisi
Strength
Weaknesse
Opportunity
Threats
SWOT MATRIX
 










C.           Analisis Strategik di Lembaga Pendidikan Islam
1.        Analisis lingkungan internal
Analisi lingkungan internal (ALI) berupa pencermatan dan identifikas terhadap kondisi intenal organisasi, menyangkut organisasi, biaya oprasional, efektifitas organisasi, sumber daya manusia, srana dan prasarana maupu dana yang tersedia. Pencermatan dilakukan dengan mengelompokkan atas hal-hal yang merupakan kekuatan (strength) atau kelemahan (weakness) organisasi dalan rangka mewujudkan tujuan dan sasaran.[18]
Lingkungan internal merupakan roh dalam sebuah lembaga untuk menjamin keberlangsungan proses pendidikan yang sedang belangsung oleh karena itu dibutuhkan manjemen pengelolaan yang baik.
a.         Analisis siswa atau peserta didik
Pesrta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui pembelajaran yang tersedia pada jalu. Jenjang dan jenis pendidikan tertentu.[19] Oemar Hamalik di kutip dari Ari Hidayat dan Imam Machali mendefinisikan peserta didik sebagi suatu kompenen masukan dalam sistem masukan dalam sistem pendidikan yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia berkualitas.
Adapun tahapan tahapan pengelolan peserta didik menuurut Ari Hidayat dan Imam Machali sebagai berikut.
a)        Analisis kebutuhan peserta didik.
b)        Rekruitmen peserta didik.
c)        Seleksi peserta didik.
d)       Orientasi.
e)        Penenmpatan pesrta didik.
f)         Pembinaan dan penagenbangan peserta didik.
g)        Pencatatan dan pelaporan.
h)        Kelulusan dan Alumni.
Oleh karena itu manajemen kesiswaan pendidikan Islam bila dilihar dari segi tahapan dalam masa studi di sekolah/madrasah dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu, penerimaan siswa baru, preoses pembelajaran dan persiapan studi lanjut atau bekerja. Dengan istilah lain, tiga tahapan tersebut dapat disebut denga tahapa penjaringan, pemprosesan dan pendistribusian. Semua tahapan tersebut membutuhkan pengelolaan secara maksimal agar mendapatkan hasil yang maksimal pula.
b.        Analisis tenaga kependidikan
USPN No. 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pendidika dalah tenaga kependidikan  yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara. Tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Sedangkan tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri  dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.
Peranan guru yang sangat penting tersebut bisa menjadi potensi besar dalam memjukan atau meningkatkan mutu pendidikan Islam, atau sebaliknya bisa juga menghancurkannya. Ketika guru benar-benar berlaku profesional  dan dapat mengelola pendidikan dengan baik, tentunya mereka semakin bersemangat dalam menjalnkan tugasnya bahkan rela melakukan inovasi pembelajarn  untuk kesuksesan pembelajaran peserta didik.[20]
c.         Analisis sarana fisik sekolah
Sarana pendidikan adalah segala sesuatu  yang meliputi  peralatan dan perlengkapan yang langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah seperti gedung, ruangan, meja, kursi, alat peraga, buku pelajaran dan lain-lain. Sedangkan prasarana semua kompenen yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pembelajaran di lembaga pendidikan tersebut seperti jalan menju sekolah, halamn sekolah, tata tertip sekolah dan lain-lain.
Sarana dan prasarana pendidikan dalam lembaga pendidikan Islam sebaiknya dikelola dengan sebaik mungkin sesuai dengan ketentuan-ketentuan berikut;
a)        Lengkap siap dipakai setiap saat, kuat, dan Awet.
b)        Rapi indah bersih, anggung, dan asri sehingga menyejukkan pandangan dan perassan siapun yang memasuki kompleks lembaga pendidikan Islam.
c)        Kreatif, inovatif, responsif dan variatif sehingga dapat merangsang timbulnya imajinaasi peserta didik.
d)       Memiliki jangkauan waktu penggunaan yang panjang melalui perencanaan yang matang untuk menghidari kecendrungan bongkar pasan bagunang.
e)        Memiliki tempat khusus untuk beribadah maupun pelaksanaan kegiatan sosio-religius seperti mushallah atau masjid..
Oleh karena itu, sarana dan prasarana pendidikan Islam seharusnya diupayakan semaksimal mungkin agar lembaga pendidikan Islam  Memiliki daya tarik yah khas. Jika terjadi demikian, maka posisi tawar lembaga tersebut terhadap masyarakat sekitar sangatlah tinggi. Hal ini mungkin terjadi jika sarana dan prasarana ini mendapat perhatian besar dari manajer pendidikan Islam mulai tahap perencanaan sampai pada perawatan /pemeliharaan.
d.        Analisis kurikulum, materi pendidikan dan proses belajar mengajar
Selama ini kurikulum di anggapa sebagai  penetu keberhasilan pendidikan, termasuk pendidikan Islam.[21] Karena itu, perhatian para guru, dosen, kepsls sekolah/madrasah, ketua rektor, maupun praktisi pendidikan terkonsentrasi pada kurikulum. Padahal kurikulum bukanlah penentu utama. Dalam kasus pendidikan di Indonesia misalnya. Problem yang paling besar di hadapi bangsa ini sesungguhnya bukan problem kurikulum, meskipun bukan berarti kurikulum tidak menimbulkan problem, namun masalah kesadaran merupakan masalah yang besar. Yaitu lemahnya kesadarn untuk berprestasi, kesadarn untuk sukses, kesadarn untuki meningkatkan SDM, kesadaran untuk menghilangkan kebodohan, maupun kesadarn untuk berbuat yang terbaik.
Menurut Mujamil Qomar yang dikutip dari Al-Syaibani mengutarakan beberapa ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam.
a)         Menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada sebagi tujuan, kandungan, metode alat dan tekniknya.
b)        Memiliki perhatian yang luas dan kandungan yang menyeluruh.
c)         Memliki keseimbangan antara kandungan kurikulum dari segi ilmu dan seni, kemestian, pengalamn dan kegiatan pengajaran yang beragam.
d)        Berkecendrungan pada seni halus, aktivitas pendiddkan, jasmani, latihan militer, pengetahuan teknik  latihan kejuruan dan bahasa asing untuk perorangan maupun mereka yang memiliki kesediaan, bakat dan keinginan.
e)         Keterkaitan kurikulum dengan kesediaan, minat, kemampuan, kebutuhan, dan perbedaan perorangan di antara mereka.[22]
Ciri-ciri ini menggambarkan adanya berbagai tuntutan yang harus ada dalam kurikulum pendidikan Islam. Tuntutan ini terus berkembang sesuai dengan tantangan zaman yang sedang dihadap. Tantangan pendidikan Islam dizaman sekarang tentu sangat berbeda denganzaman klasik dulu. Tantangan dizaman sekarang tentu lebih kompleks. Kurikulum pendidikan harus dirancang dengan sebagus mungkin untuk menghasilkan outpit yang memuaskan.
e.         Analisis administrasi dan keuangan sekolah
Selama ini ada kesan bahwa keuangan adalah segalanya dalam memajukan suatu lembaga pendidikan. Tampa dukungan finasial yang cukup, manajer lembaga pendidikan seakan tidak bisa berbuat banyak dalam upaya memajukan lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Sebab mereka berpikir semua uapay memajukan senantiasa harus dimodali dengan uang. Upaya memajukan kompenen-kompenen  pendidikan  tampa disertai dukungan uang akan pasti mandek di tengah jalan.
Setidaknya ada dua hal yang meneybabkan timbulnya perhatian yang besar pada keungan yaitu, Pertama, keungan temaasuk kunci penentu kelangsungan dan kemajuan lembaga pendidikan. Kenyataan ini mengandung konsekuensi bahwa program-program pembaruan atau pengembangan pendidikan bisa gagal dan berantakan manakala tidak didukung oleh dana yang memadai. Kedua, lazimnya uang dalam jumlah besar sulit sekali didapatkan  khususnya lembaga pendidikan swasta yang baru berdiri. 
Sumber keungan atau pembiayaan pada suatu sekolah secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga sumber.
a)         Pemerintah, baik pemerintah pusat, daerah maupun keduanya, bersifat umum dan khususserta di peruntukkan bagi pendidikan.
b)        Orangtua atau peserta didik.
c)         Masyarakat, baik mengikat maupun tidak mengikat.[23]
2.        Analisis lingkungan eksternal
Analisis lingkungan eksternal (ALE) berupa pencermatan dan identifikasi terhadap kondisi lingkungan di luar organisasi yang dapat terdiri dari lingkungan ekonomi, teknologi, sosial, budaya, politik, ekologi dan keamanan pencermatan ini akan menghasilkan  indikasi menganai peluang (opportunities) dan tantangan (threas) organisasi dalam mewujudkan tujuan dan sasaran organisasi.[24]
a.         Analisis lingkungan sosial masyarakat
Lembaga pendidikan Islam perlu menagani masyarakat atau hubungan lembaga pendidikan Islam dengan masyarakat. Kita harus menyadari bahwa masyarakat memiliki peranan yang sangat penting terhadap keberadaan, keberlangsungan bahkan kemajuan lembaga pendidikan Islam. Setidaknya salah satu parameter penentu nasib lembaga  pendidikan Islam adalah masyarakat. Bila ada lembaga pendidikan Islam maju, hampir bisa dipastikan salah satu faktor keberhasilan adalah keterlibatan masyarakat yang maksimal. Begitu pula sebaliknya, bila ada lembaga pendidikan Islam yang memperihatinkan, salah satu penyebabnya bisa jadi masyarakat enggang mendukung. Sikap masyarakat ini bisa jadi akibat dari hal lain dalam kaitannya dengan lembaga pendidikan Islam, baik yang bersifat internal maupun eksternal.
Masyarakat memiliki posis ganda dalam lembaga pendidikan Islam, yaitu sebagai objek dan sebagi subjek yang keduanya memiliki makna fungsional bagi pengadaan lembaga pendidikan Islam. Ketika lembaga pendidikan Islam sedang melakukan promosi penerimaan sisw/santri dan mahasiswa baru maka masyarakat menjadi objek mutlakdi butuhkan. Sementara itu respon terhadap promosi itu menempatkan mereka sebagai subjek yang memiliki kewenangan penuhuntuk mnerima tau menolaknya.
Seelain itu hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan antara lain sebagai berikut
a)        Memajukan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan anak.
b)        Memperkukuh tujuan serta  meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat.
c)        Menggairahkan masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah.[25]
b.        Analisis peranan pemerintah dan Yayasan
Dalam menghadapi kebijakan pemerintah yang dinilai kurang berpihak pada pengembangan lembaga pendidikan, pengelola harus mampu memiliki jiwa untuk berbesar dan menanggung apa yang terjadi si kemudian hari terhadap terhadap kebijakan tersebut[26]
Umumnya ketidaksesuaian kebijakan dengan apa yang ada di atas kertas dengan apa yang ada di lapangan dikarenakan tidak adanya kebijakan pendukung. Misalnya seperti penerapan kebijakan dalam menjalankan standar nasional pendidikan dalam bidang proses pembelajaran seperti yang tertuang dalam permendiknas No. 22,23 dan 24 tahun 2006, yang mengamantkan agar sekolah atau madrasah melaksanakan proses pembelajaran yang terencana dibuktikan dengan adanya para guru yang membuat silabus dan RPP. Kebijakan ini sebenarnya adalah langkah maju yang dilakukan oleh pemerintah dalam upaya pembelajaran yang efektif. Namun awalnya kebijakan ini juga berjalan tersendak-sendak dikarenakan ketika menerima kebijakan tersebut para pengelola madrasah merasa kelebihan karena kebijakan tersebut tidak ditkuti dengan kebijakan pendukung seperti pengadaan pelatihan pembuatan silabus dan RPP yang merata diseluruh Indonesia, bantuan dana serta teknologi informasi dan komunikasi yang berkaitan dengan hal tersebut.[27]
D.      Analisis SWOT lembaga Pendidikan Islam
Analisi SWOT itu sendiri dapat didefinisikan dengan suatu identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan.[28] Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strenghts) dan peluang (opportunities), akan tetapi secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan(weakness) dan ancaman( threats).[29]
Ada beberapa tahapan dan langkah yang mesti ditempuh dalam melakukan analisis SWOT, antara lain: Langkah pertama, identifikasi kelemahan (internal) dan ancaman (eksternal, globalisasi) yang paling urgen untuk diatasi secara umum pada semua komponen pendidikan. Langkah kedua, identifikasi kekuatan (internal) dan peluang (eksternal) yang diperkirakan cocok untuk mengatasi kelemahan dan ancaman yang telah diidentifikasi pada langkah pertama. Langkah ketiga, lakukan analisis SWOT lanjutan setelah diketahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam konteks sistem manajemen pendidikan. Langkah keempat, rumuskan strategi-strategi yang direkomendasikan untuk menangani kelemahan dan ancaman, termasuk pemecahan masalah, perbaikan dan pengembangan lebih lanjut.
Langkah kelima, tentukan prioritas penanganan kelemahan dan ancaman itu, dan disusun suatu rencana tindakan untuk melaksanakan program penanganan.
Dengan analisis SWOT tersebut diharapkan pendidikan Islam dapat melakukan langkah-langkah strategis.  Strategi adalah suatu cara dimana organisasi atau lembaga akan mencapai tujuannya, sesuai dengan peluang-peluang dan ancaman-ancaman lingkungan eksternal yang dihadapi, serta sumber daya dan kemampuan internal.Setelah melakukan analisis SWOT, berikutnya adalah melakukan langkah-langkah strategis sebagaimana dapat dibagankan sebagai berikut:
1.         Kekuatan
Faktor-faktor kekuatan dalam lembaga pendidikan adalah kompetensi khusus atau keunggulan-keunggulan lain yang berakibat pada nilai plus atau keunggulan komparatif lembaga pendidikan tersebut.Hal ini bisa dilihat jika sebuah lembaga pendidikan harus memiliki skill atau keterampilan yang bisa disalurkan bagi perserta didik, lulusan terbaik/hasil andalan, maupun kelebihan-kelebihan lain yang membuatnya unggul bagi pesaing-pesaing serta dapat memuaskan steakholder maupun pelanggan (peserta didik, orang tua, masyarakat dan bangsa).
Sebagai contoh bidang keunggulan, antara lain kekuatan pada sumber keuangan, citra yang positif, keunggulan kedudukan di masyrakat, loyalitas pengguna dan kepercayaan berbagai pihak yang berkepentingan. Sedangkan keunggulan lembaga pendidikan di era otonomi pendidikan atara lain ; sumber daya manusia yang secara kuantitatif besar, hanya saja perlu pembenahan dari kualitas. Selain itu antusiasme pelaksanaan pendidikan Islam sangat tinggi, yang didukung sarana prasarana pendidikan yang cukup memadai. Hal lai dari faktor keunggulan lembaga pendidikan Islam adalah kebutuhan masyarakat terhadap yang bersifat transendental sangat tinggi, dan itu sangat mungkin diharapkan dari proses pendidikan lembaga pendidikan Islam.
Bagi sebuah lembaga pendidikan sangat penting untuk mengenali terhadap kekuatan dasar lembaga tersebut sebgai langkah awal atau tonggak menuju pendidikan yang berbasis kualitas tinggi. Mengenali kekuatan dan terus melakukan refleksi adalah sebuah langkah bersar untuk menuju kemajuan bagi lembaga pendidikan islam.
2.         Kelemahan
Segala sesuatu pasti memiliki kelemahan adalah hal yang wajar tetapi yang terpenting adalah bagaimana sebagai penentu kebijakan dalam lembaga pendidikan bisa meminimalisir kelemahan-kelemahan tersebut atau bahkan kelemahan tersebut menjadi satu sisi kelebihan yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain. Kelemahan ini bisa kelemahan dalam sarana dan prasarana, kualitas atau kemampuan tenaga pendidik, lemahnya kepercayaan masyarakat, tidak sesuainya antara hasil lulusan dengan kebutuhan masyarakat atau dunia usaha dan industri dan lain-lain
Untuk itu, beberapa faktor kelemahan yang harus segera dibenahi oleh para pengelola pendidikan Islam, antar alain ; (1) lemahnya SDM dalam lembaga pendidikan Islam. (2) sarana dan prasarana yang masih sebatas pada sarana wajib saja. (3) lembaga pendidikan Islam swasta umumya kurang bisa menangkap peluang, sehingga mereka hanya puas dengan keadaan yang dihadapi sekarang ini. (4) uotput lembaga pendidikan Islam belum sepenuhnya bersaing dengan output lembaga pendidikan yang lain dan sebagainya.
3.         Peluang
Peluang adalah suatu kondisi lingkungan eksternal yang menguntungkan bahkan menjadi formulasi dalam lembaga pendidikan. ituasi lingkungan tersebut misalnya ; (1) kecendrungan penting yang terjadi dikalangan peserta didik. (2) identifikasi suatu layanan pendidikan yang belum mendapat perhatian. (3) perubahan dalam keadaan persaingan. (4) hubungan dengan pengguna atau pelanggan dan sebagainya. Peluang pengembangan lembaga pendidikan Islam antara lain :
a.         Di era yang sedang krisis moral dan krisis kejujuran seperti ini diperlukan peran serta pendidikan agama Islam yang lebih dominan.
b.         Pada kehidupan masyarakat kota dan modern yang cenderung konsumtif dan hedonis, membutuhkan petunjuk jiwa, sehingga kajian-kajian agama berdimensi sufistik kia menjamur. Ini menjadi salah satu peluang bagi pengembangan lembaga pendidikan Islam kedepan.
c.         Secara historis dan realitas, mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, bahkan merupakan komunitas muslim terbesar diseluruh dunia. Ini adalah peluang yang sangat setrategibagi pentingnya manajemen pengembangan lembaga pendidikan Islam.
4.         Ancaman.
Ancama merupakan kebalikan dari sebuah peluang, ancaman meliputi faktor-faktor lingkungan yang tidak menguntungkan bagi sebuah lembaga pendidikan. Jika sebuah ancaman tidak ditanggulangi maka akan menjadi sebuah penghalang atau penghambat bagi maju dan peranannya sebuah lembaga pendidikan itu sendiri. Contoh ancaman tersebut adalah ; minat peserta didik baru yang menurun, kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan tersebut dan lain-lain.
E.       Contoh analisis SWOT di Lembaga Pendidikan Islam
1.         Kekuatan:
a.         Knowledge atau kepakaran yang dimiliki
b.        Lulusan dihasilkan atau pelayanan yg unik
c.         Lokasi tempat lembaga pendidikan berada
d.        Kualitas lulusan atau proses
2.         Kelemahan:
a.         Kurangnya pengetahuan sosialisasi lembaga pendidikan.
b.        Lulusan yang tidak dapat dibedakan dengan lulusan lembaga pendidikan / lembaga pendidikan lain.
c.         Lokasi lembaga pendidikan  yang terpencil
d.        Kualitas lulusan yang jelek
e.         Reputasi yang buruk
3.         Peluang:
a.         Lembaga yangterus berkembang dan pendidikan merupakan kebutuhan bagi masyarakat.
b.        Adanya pendidikan berbasis internasional
c.         Peluang karena lembaga pendidikan  yang tidak sanggup memenuhi permintaan masyarakat.
4.         Ancaman:
a.         Adanya lembaga pendidikan Islam baru di area yang sama
b.        Persaingan harga dengan lembaga pendidikan lain.
c.         Lembaga pendidikan lain mengeluarkan lulusan baru yang inovatif
d.        Lembaga pendidikan lain memegang pangsa pasar terbesar

No
Dimensi
Bobot
1
Visi, Misi dan tujuan lembaga
5
2
Organisasasi & Administrasi
5
3
Manajemen
5
4
siswa
10
5
SDM
10
6
Keuangan
5
7
Insfrastruktur
5
8
Kurikulum
10
9
Pembelajaran
10
10
Penelitian dan publikasi
10
11
Pengabdian masyarakat
5
12
Kendali mutu
10
13
Sistem informasi
5
14
Keberlanjutan
5
15
Kinerja Fakultas Jumlah
100%

No
Faktor Internal : Kekuatan
Skor
+1
+2
+3
1
Knowledge atau kepakaran yang dimiliki
-
2
-
2
Lulusan dihasilkan atau pelayanan yg unik
-
2
-
3
Lokasi tempat lembaga pendidikan berada
-
2
-
4
Kualitas lulusan atau proses
-
2
-
Jumlah
8

No
Faktor Internal: Kelemahan
Skor
-1
-2
-3
1
Kurangnya pengetahuan sosialisasi lembaga pendidikan.
-
2
-
2
Lulusan yang tidak dapat dibedakan dengan lulusan lembaga pendidikan / lembaga pendidikan lain.
-
2
-
3
Lokasi lembaga pendidikan  yang terpencil
-
2
-
4
Kualitas lulusan yang jelek
-
2
-
Jumlah
8

No
Faktor Eksternal: Peluang
Skor
  

+1
+2
+3
2
Adanya pendidikan berbasis internasional
-
2
-
2
Lembaga yangterus berkembang dan pendidikan merupakan kebutuhan bagi masyarakat.
-
2
-
3
Peluang karena lembaga pendidikan  yang tidak sanggup memenuhi permintaan masyarakat.
-
2
-
Jumlah
8

No
Faktor Eksternal: Ancaman
Skor
  

+1
+2
+3
1
Adanya lembaga pendidikan Islam baru di area yang sama
-
2
-
2
Persaingan harga dengan lembaga pendidikan lain.
-
2
-
3
Lembaga pendidikan lain mengeluarkan lulusan baru yang inovatif
-
2
-
4
Lembaga pendidikan lain memegang pangsa pasar terbesar
--
2
-
Jumlah
8

Kuadran SWOT
Kuadran 1 (kanan-atas): ofensif/Agresif (Pengembangan dan pertumbuhan)
Jika berada pada posisi ini, berarti lembaga memiliki banyak kekuatan dan peluang dibandingkan dengan kelemahan dan ancaman. Pada posisi ini masih dapat dikaji lebih jauh apakah kekuatan yang dimiliki mendominasi peluang yang ada. Yang jelas, pada posisi ini lembaga harus dapat memanfaatkan berbagai peluang yang ada.
Kuadran II Defensif (Stabilisasi dan Konsolidasi Internal) (kiri-atas):
Jika lembaga berada pada posisi ini berarti lembaga memiliki banyak kekuatan dibandingkan dengan kelemahan. Namun dari lingkungan eksternal lembaga menghadapi lebih banyak ancaman dibandingkan dengan peluang. Untuk itu, strategi yang dimunculkan adalah dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki dalam menghadapi/menghindari ancaman dan bahkan mengubahnya menjadi peluang.
Kuadran III Rekonsiliasi: (Penciutan Kegiatan) (kanan-bawah):
Lembaga memiliki banyak kelemahan daripada kekuatan. Namun dari sisi ;lingkungan eksternal, lembaga menghadapi lebih banyak peluang daripada ancaman. Dengan demikian strategi yang perlu dikembangkan adalah yang memanfaatkan peluang dan meminimalisir kelemahan.
Kuadran IV (Diversivikasi kegiatan) (kiri-bawah): Likuidasi/Turn around:
Kuadran 4 menunjukkan bahwa lembaga memiliki sangat kecil kemungkinan untuk berkembang bahkan bertahan, karena kekuatan yang dimiliki lebih kecil daripada kelemahan dan ancaman yang dihadapi lebih besar/lebih banyak daripada peluang. Namun pada institusi pelayanan pendidikan, tidak pernah dilakukan likuidasi/penutupan. Sehingga apabila lembaga berada pada posisi ini, disarankan untuk melakukan turn-around atau mengkaji kembali core business- lembaga, apakah sudah sesuai dengan visi, misi, atau kondisi lingkungan yang dihadapi atau tidak.
F.       Kesimpiluan
Pengamatan dan penilaian yang dilakukan secara simultan terhadap lingkungan eksternal dan internal lembaga pendidikan memungkinkan para pengelola pendidikan mampu mengidentifikasi berbagai jenis peluang untuk merumuskan dan mengimplementasikan rencana pendidikan. Rancangan yang bersifat menyeluruh dapat dilakukan melalui proses tindakan yang dikenal sebagai manajemen strategik.
Pencapain tujuan organisasi diperlukan alat yang berperan sebagi ekselerator dan dinamisator sehingga tujuan dapat tercapai secara efektif dan efesien. Demikan halnya dalam lembaga pendidikan Islam yang merupakan sekumpulan manusia yang mempunyai tujuan untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, sejalan dengan hal tersebut diyakini sebagai salah satu alat untuk mencapai tesebut adalah menggunakan konsep manajemen  strtaegik
Dalam pelaksanaan roda organisasi baik itu organisasi publik maupun lain maka dibutuhkan pengelolaan yang profesional agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka perlu analisa dan memperhitungkan kemungkinan yang akan dihadapi dalam organisasi Manajemen strategik adalah proses formulasi dan implementasi rencana dan kegiatan yang berhubungan dengan hal vital dan berkesinambungan bagi suatu organisasi. Konsep manajemen strategik digunakan di dunia pendidikan untuk lebih mengefektifkan pengalokasian sumber daya yang ada dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan teknik analisis SWOT.
Faktor-faktor kekuatan dalam lembaga pendidikan adalah kompetensi khusus atau keunggulan-keunggulan lain yang berakibat pada nilai plus atau keunggulan komparatif lembaga pendidikan tersebut.Hal ini bisa dilihat jika sebuah lembaga pendidikan harus memiliki skill atau keterampilan yang bisa disalurkan bagi perserta didik, lulusan terbaik/hasil andalan, maupun kelebihan-kelebihan lain yang membuatnya unggul bagi pesaing-pesaing serta dapat memuaskan steakholder maupun pelanggan (peserta didik, orang tua, masyarakat dan bangsa).
Daftar Pustaka

Akdon, 2007. Stategic Management for Education Management (Manajemen Strategik Untuk Manajemen Pendidikan), Bandung; Alfabeta.

David, Fred R. 2006.  Manajemen Strtegis Konsep, terj. Ichan Setiyo Budi,  Jakarta: Salemba Empat

Depertemen pendidikan Nasional, 2008, Kamus Besar Indonesia, Jakarta:Pusat Bahasa,

Engkoswara dan Aan Komariah, 2010. Administrasi Pendidikan, Bandung; Alfabeta.

Hidayat, Ara dan Imam Machali, 2012, Pemgelolaan Pendidikan, Konsep, Prinsip Dan Aplikasi Dalam Mengelolah Sekolah Dan Madrasah, Yogyakarta; Kaukaba.

Mulyasa, E. 2003. Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung; PT. Remaja Rosdakarya.

--------------,2002.Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep strategi dan Implementasi, Bandung; Remaja Rosda Karya.

Padil, Moh. dan Angga Teguh Prasetyo, 2011, Strategi Pengelolaan SD/MI Visioner, Malang: UIN Maliki Press.

Qomar, Mujamil, 2007. Manajemn Pendidikan Islam, Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam, Bandung: Erlangga.

Rangkuti, Freddy, 2008, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama.

Sagala, Syaiful, 2010,  Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan, Bandung; Alfabeta.

Sam M, Chan, dkk. 2007, Anilisis SWOT Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah, Jakarta; Grafindo Persada.

Sallis, Edward, 2012. Total Quality Management in Edukation (Manajemen Mutu Pendidikan), Yogyakarta; IRCiSoD.

Wahyudi, 1996.  Manajemen Stratgik Organisasi Non Profit, Jakarta: Bina Rupa Aksara.






[1] E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung; PT. Remaja Rosdakarya. 2003, hlm., 217
[2] Depertemen pendidikan Nasional, Kamus Besar Indonesia, Jakarta:Pusat Bahasa, 2008, hlm., 59
[3] Ibid, hlm., 1515
[4] Akdon, Stategic Management for Education Management (Manajemen Strategik Untuk Manajemen Pendidikan), Bandung; Alfabeta, 2007, hlm., 2
[5] Ibid, hlm. 3
[6] Ibid, hlm. 3
[7]Fred R. David, Manajemen Strtegis Konsep, terj. Ichan Setiyo Budi,  Jakarta: Salemba Empat, 2006, hlm., 5
[8]Ibid, hlm., 7
[9]Syaiful Sagala, Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan, Bandung; Alfabeta, hlm., 139
[10] Akdon, Stategic Management for Education Management (Manajemen Strategik Untuk Manajemen Pendidikan), Bandung; Alfabeta, 2007, hlm., 82-83
[11] Akdon, Stategic Management....... hlm., 84
[12]Wahyudi, Manajemen Stratgik Organisasi Non Profit, Jakarta: Bina Rupa Aksara, 1996, hlm., 19
[13] Edward Sallis, Total Quality Management in Edukation (Manajemen Mutu Pendidikan), Yogyakarta; IRCiSoD, 2012, hlm., 221
[14] Ara Hidayat dan Imam Machali, Pemgelolaan Pendidikan, Konsep, Prinsip Dan Aplikasi Dalam Mengelolah Sekolah Dan Madrasah, Yogyakarta; Kaukaba, 2012, hlm., 166
[15]Ibid, hlm. 166
[16]Ibid, hlm. 166
[17]Ibid, hlm. 166
[18] Engkoswara dan Aan Komariah, Administrasi Pendidikan, Bandung; Alfabeta, 2010, hlm., 138.
[19]Ara Hidayat dan Imam Machali, Pemgelolaan Pendidikan..., hlm., 150
[20] Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,.. hlm. 129
[21] Mujamil Qomar, Manajemn Pendidikan Islam, Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam, Bandung: Erlangga, 2007, hlm., 149
[22] Ibid, hlm., 151
[23]E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep strategi dan Implementasi, Bandung; Remaja Rosda Karya, 2002, hlm., 49
[24]Engkoswara dan Aan Komariah, Administrasi... hlm., 139
[25]E. Mulyasa, manajemen..... hlm. 50
[26] Moh. Padil dan Angga Teguh Prasetyo, Strategi Pengelolaan SD/MI Visioner, Malang: UIN Maliki Press, 2011, hlm., 4
[27] Ibid, hlm., 5
[28] Pada dasarnya analisis SWOT ini memang biasa dipakai dalam perusahaan-perusahaan. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan dan tidak ada salahnya jika digunakan dalam suatu lembaga pendidikan termasuk pesantren.
[29] Freddy Rangkuti, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, Jakarta, PT Gramedia PustakaUtama., 2008, hlm. 19.